• 22nd November
    2010
  • 22

Hello EARTH! 
Namanya Bumi. Tidak hobi berselimut dan menjaga atmosfirnya, hobi latihan spelling DHE-DHE-DHE—
“dika duduk di depan dapur didi”
Diucapkan nya berjuta kali. Aku tertawa renyah! Seperti tarzan,katanya.
Lidah pendek,kelingking digesek-gesekan ke bantalan hidung jutaan kali. Saat ia berfikir,saat menatap laptop dan otak mengirim sinyal lantas ia bergumam,
„AH! Hampir GOL! „
Aku melirik sebentar saja
.Sekali lagi.
Aku mempersiapkan tatapan setajam golok baru diasah di atas batu pualam.
Bumi meletakkan stick playstation ala kadarnya.
pasrah ter-GAP bermain di jadwal yang tidak seharusnya
„ OK! I am done“ sambil membagikan bonus senyum termanis nya,matanya mengecil.
sifit kataku. AH MAUT!
he’s a warm hearted. Hangat seperti cream soup kentucky fried chicken yang selalu dibawa setiap kali aku drop.
“hari ini meeting sampe jam berapa? aku jemput ya.malem?kira-kira dimana?kamu ga bisa ya meeting deket kampus aja gitu? eh bentar schedule kita hari ini apa?jadi gimana nanti? AKU JEMPUT JAM BERAPA?”
CIA aja kalah.
Tak pernah aku menemukan individu yang gemar antar jemput selarut malam apapun. Ia selalu bersedia berbagi jadwal kesibukan nya dengan ku. Jarak tempuh yang memang tidak sejauh bumi dan mars tidak mengendurkan niatnya sedikit pun untuk selalu memastikan aku aman dari gombalan preman terminal terdekat
Ia memiliki caranya sendiri.Ia memiliki kadar glukosa yang tak terdefinisikan lagi. Entah datang darimana,entah atas kesadaran apa yang pasti ia selalu memastikan segalanya dengan cara yang unik.
Ini bukan gombal ini bukan bualan atau parahnya ini jelas bukan skenario FTV murahan. Berdebat dengan nya begitu simple.Tak pernah makan waktu dan tenaga berlebihan.Segalanya tepat pada porsinya.
Kadang aku mengetes kemampuan diplomasinya. Ya dia kan belajar. Tapi tetap,dia begitu efektif. Tidak boros kata sepertiku.
Aku gemar mengacak ribuan file miliknya. Barisan playlist pada i-tunes nya! Kadang aku membuat sembarang playlist, men-drag kumpulan hits BACKSTREET BOYS ALRIGHT! atau Westlife…
drag rename : GHEO loves WESTLIFE. Lalu menyeringai kemudian. 
“honeeeeey NO!”
“doch doch,kamu dengerin mereka kalo lagi mellow!”
AH! berbeda dalam segala hal, membuat semuanya terlihat semakin menarik.
aku menulis semua alfabet rapi dengan tangan kanan,dia menulis semua alfabet sangat menarik dengan tangan kirinya.
” OH,LO KIDAL!” —- inilah opini awal ketika dia menandatangani absen jadwal mengajar kami di desa beberapa bulan lalu.
hingga sekarang aku selalu menunggu dia mengeluarkan pulpen 2000-an nya dan begitu excited melihatnya menulis. 
OH my..left-handed.
“kita beda kasta yah?aku pulpennya mahalan dong!”
“IYA TAU! yang mesti apa tuh?millipen warna warni.aku ini aja cukup”. Ia selalu puas dalam hal sederhana yang bahkan tak terukur oleh skala kata.
dan beberapa hari kemudian terbingkai wajah inosen (innocent),
“sayaaaaaaang aku pinjem pulpen kamu! mauuu ujiaaann ga bawa pulpen!”
Bumi senyum,mengacak-acak rambutku yang COME ON MAN! kuru-kuru sejam ini hey! , 
„pulpen murahan akuuuu?.Good luck ujiannya!” —- lalu kembali menyipit. AH MAUT!
SNAP!SNAP!SNAP! 
Dengan bergunung kelebihan dan segumpal kekurangan yang dimilikinya,inilah manusia kesayangan yang Tuhan kirim untuk menghapus moment Starbucks- kue cokelat surgawi di city centre Darmstadt. 
DIA.
DIA yang benar-benar tanpa dibungkus dengan pita manis, sudah selalu mampu mengukir seulas simpul di ujung tarikan bibir cerewetku.
Inilah mengapa berkali-kali aku mengingatkan diri sendiri untuk tidak berlagak SOK TAHU dengan segala kehendak Tuhan. 
DIA.
DIA adalah kado yang terbungkus rapi ketika aku tengah sibuk mencari tumpukan buku materi tugas di Bibliothek Goethe Institut. Tangan lentiknya sibuk membolak-balik buku photography dan arsitektur saat itu. Aku sendiri tak ada sela waktu untuk memperhatikan seberapa serius dia hingga entah di jam, menit dan detik berapa, ia membetulkan letak kacamatanya dan sempat-sempatnya…
A QUESTION.
Sebuah pertanyaan, ah entahlah apa itu PERTANYAAN yang berbentuk PERNYATAAN…membran sel otak ini hanya sempat mendengar barisan kata dalam bahasa Indonesia seadanya yang jelas sarat makna.
Seketika aku tertawa renyah dan mengajaknya pulang dan membeli minuman green tea. Mungkin dia hanya butuh sedikit istirahat untuk meredam ilusi nya. AH Jahat! :D
Berbulan-bulan kemudian,entahlah…aku menjadi wujud paling bahagia di dunia dan di waktu yang bersamaan kami berjalan terseok-seok. Awalan yang begitu tidak mudah. Alhamdulillah.
DIA.
DIA jelas melengos dengan segala circumstances yang ada. Baginya aku ini centre. Hati ini tak berhenti bersyukur namun bibir ini masih kaku akan kata, bukan rasa. Entahlah.
 ————-
„ will you? „
Membran ini masih saja berputar antara kepanikan mencari bahan tugas di rak Kindermärchen dan kepanikan hati.
TSAAAAHHH.!
Suatu saat nanti. 
DIA.
DIA telah berjanji…mengulang sekali lagi pernyataan nya nya dengan menyanyikan lagu ini : 
http://www.youtube.com/watch?v=ir-tZS3TaxM 
NOTED. I’ll record and post it. Just wait and see…
Dan selama itu….ehem…kami sudah melangkah ke angka 9. 
HAPPY ANNIVERSARY,PUMPKIN! Are we not like two volumes of single book ? :)
Semoga kamu akan tetap selalu berlari panik di hari pertama PMS aku dan datang dengan sebotol kaleng soda yang kamu percayai akan mempan menghilangkan nyeri PMS ini.
Semoga kamu akan tetap selalu “berisik” di jam-jam shalat dan mengingatkan untuk menyegerakkan berwudhu dan berdiri di belakang sebagai makmum mu.
Semoga kamu, yang dengan segala kegelian yang ada, akan terus setia menemani wanita mu ini menonton opera sabun korea.
Dan semoga kita akan berdiri di jarak yang sama di kota KASSEL suatu saat nanti.Well then, menemani mu menonton MU pun nampaknya bukan ide yang buruk. I am ok with that.
I love you.
Thank you for being there when I need you most. For being that shoulder to cry on, that person I run to. I know you always complain about me being me, but you’re probably one of the few that REALLY know who I am, inside & out. You’ve seen me rise at my best & fall at my worst. Please don’t ever leave me <3
 
 
 
 
 

Hello EARTH! 

Namanya Bumi. Tidak hobi berselimut dan menjaga atmosfirnya, hobi latihan spelling DHE-DHE-DHE—

“dika duduk di depan dapur didi”

Diucapkan nya berjuta kali. Aku tertawa renyah! Seperti tarzan,katanya.

Lidah pendek,kelingking digesek-gesekan ke bantalan hidung jutaan kali. Saat ia berfikir,saat menatap laptop dan otak mengirim sinyal lantas ia bergumam,

„AH! Hampir GOL! „

Aku melirik sebentar saja

.Sekali lagi.

Aku mempersiapkan tatapan setajam golok baru diasah di atas batu pualam.

Bumi meletakkan stick playstation ala kadarnya.

pasrah ter-GAP bermain di jadwal yang tidak seharusnya

„ OK! I am done“ sambil membagikan bonus senyum termanis nya,matanya mengecil.

sifit kataku. AH MAUT!

he’s a warm hearted. Hangat seperti cream soup kentucky fried chicken yang selalu dibawa setiap kali aku drop.

“hari ini meeting sampe jam berapa? aku jemput ya.malem?kira-kira dimana?kamu ga bisa ya meeting deket kampus aja gitu? eh bentar schedule kita hari ini apa?jadi gimana nanti? AKU JEMPUT JAM BERAPA?”

CIA aja kalah.

Tak pernah aku menemukan individu yang gemar antar jemput selarut malam apapun. Ia selalu bersedia berbagi jadwal kesibukan nya dengan ku. Jarak tempuh yang memang tidak sejauh bumi dan mars tidak mengendurkan niatnya sedikit pun untuk selalu memastikan aku aman dari gombalan preman terminal terdekat

Ia memiliki caranya sendiri.Ia memiliki kadar glukosa yang tak terdefinisikan lagi. Entah datang darimana,entah atas kesadaran apa yang pasti ia selalu memastikan segalanya dengan cara yang unik.

Ini bukan gombal ini bukan bualan atau parahnya ini jelas bukan skenario FTV murahan. Berdebat dengan nya begitu simple.Tak pernah makan waktu dan tenaga berlebihan.Segalanya tepat pada porsinya.

Kadang aku mengetes kemampuan diplomasinya. Ya dia kan belajar. Tapi tetap,dia begitu efektif. Tidak boros kata sepertiku.

Aku gemar mengacak ribuan file miliknya. Barisan playlist pada i-tunes nya! Kadang aku membuat sembarang playlist, men-drag kumpulan hits BACKSTREET BOYS ALRIGHT! atau Westlife…

drag rename : GHEO loves WESTLIFE. Lalu menyeringai kemudian.

“honeeeeey NO!”

doch doch,kamu dengerin mereka kalo lagi mellow!”

AH! berbeda dalam segala hal, membuat semuanya terlihat semakin menarik.

aku menulis semua alfabet rapi dengan tangan kanan,dia menulis semua alfabet sangat menarik dengan tangan kirinya.

” OH,LO KIDAL!” —- inilah opini awal ketika dia menandatangani absen jadwal mengajar kami di desa beberapa bulan lalu.

hingga sekarang aku selalu menunggu dia mengeluarkan pulpen 2000-an nya dan begitu excited melihatnya menulis.

OH my..left-handed.

“kita beda kasta yah?aku pulpennya mahalan dong!”

“IYA TAU! yang mesti apa tuh?millipen warna warni.aku ini aja cukup”. Ia selalu puas dalam hal sederhana yang bahkan tak terukur oleh skala kata.

dan beberapa hari kemudian terbingkai wajah inosen (innocent),

“sayaaaaaaang aku pinjem pulpen kamu! mauuu ujiaaann ga bawa pulpen!”

Bumi senyum,mengacak-acak rambutku yang COME ON MAN! kuru-kuru sejam ini hey! ,

„pulpen murahan akuuuu?.Good luck ujiannya!” —- lalu kembali menyipit. AH MAUT!

SNAP!SNAP!SNAP! 

Dengan bergunung kelebihan dan segumpal kekurangan yang dimilikinya,inilah manusia kesayangan yang Tuhan kirim untuk menghapus moment Starbucks- kue cokelat surgawi di city centre Darmstadt.

DIA.

DIA yang benar-benar tanpa dibungkus dengan pita manis, sudah selalu mampu mengukir seulas simpul di ujung tarikan bibir cerewetku.

Inilah mengapa berkali-kali aku mengingatkan diri sendiri untuk tidak berlagak SOK TAHU dengan segala kehendak Tuhan.

DIA.

DIA adalah kado yang terbungkus rapi ketika aku tengah sibuk mencari tumpukan buku materi tugas di Bibliothek Goethe Institut. Tangan lentiknya sibuk membolak-balik buku photography dan arsitektur saat itu. Aku sendiri tak ada sela waktu untuk memperhatikan seberapa serius dia hingga entah di jam, menit dan detik berapa, ia membetulkan letak kacamatanya dan sempat-sempatnya…

A QUESTION.

Sebuah pertanyaan, ah entahlah apa itu PERTANYAAN yang berbentuk PERNYATAAN…membran sel otak ini hanya sempat mendengar barisan kata dalam bahasa Indonesia seadanya yang jelas sarat makna.

Seketika aku tertawa renyah dan mengajaknya pulang dan membeli minuman green tea. Mungkin dia hanya butuh sedikit istirahat untuk meredam ilusi nya. AH Jahat! :D

Berbulan-bulan kemudian,entahlah…aku menjadi wujud paling bahagia di dunia dan di waktu yang bersamaan kami berjalan terseok-seok. Awalan yang begitu tidak mudah. Alhamdulillah.

DIA.

DIA jelas melengos dengan segala circumstances yang ada. Baginya aku ini centre. Hati ini tak berhenti bersyukur namun bibir ini masih kaku akan kata, bukan rasa. Entahlah.

 ————-

„ will you? „

Membran ini masih saja berputar antara kepanikan mencari bahan tugas di rak Kindermärchen dan kepanikan hati.

TSAAAAHHH.!

Suatu saat nanti.

DIA.

DIA telah berjanji…mengulang sekali lagi pernyataan nya nya dengan menyanyikan lagu ini : 

http://www.youtube.com/watch?v=ir-tZS3TaxM 

NOTED. I’ll record and post it. Just wait and see…

Dan selama itu….ehem…kami sudah melangkah ke angka 9.

HAPPY ANNIVERSARY,PUMPKIN! Are we not like two volumes of single book ? :)

Semoga kamu akan tetap selalu berlari panik di hari pertama PMS aku dan datang dengan sebotol kaleng soda yang kamu percayai akan mempan menghilangkan nyeri PMS ini.

Semoga kamu akan tetap selalu “berisik” di jam-jam shalat dan mengingatkan untuk menyegerakkan berwudhu dan berdiri di belakang sebagai makmum mu.

Semoga kamu, yang dengan segala kegelian yang ada, akan terus setia menemani wanita mu ini menonton opera sabun korea.

Dan semoga kita akan berdiri di jarak yang sama di kota KASSEL suatu saat nanti.Well then, menemani mu menonton MU pun nampaknya bukan ide yang buruk. I am ok with that.

I love you.

Thank you for being there when I need you most. For being that shoulder to cry on, that person I run to. I know you always complain about me being me, but you’re probably one of the few that REALLY know who I am, inside & out. You’ve seen me rise at my best & fall at my worst. Please don’t ever leave me <3